Askep RHINITIS

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Di Indonesia dan di luar negeri, kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan di kepala dan leher. Hidung dan sinus paranasal atau juga disebut sinonasal merupakan rongga yang dibatasi oleh tulang-tulang wajah yang merupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit diketahui secara dini. Asal tumor primer juga sulit ditentukan, apakah dari hidung atau sinus karena biasanya pasien berobat dalam keadaan penyakit telah lanjut dan tumor sudah memenuhi rongga hidung dan seluruh sinus.

            Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwapenyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan dirumah sakit

Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI danBagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien dari jumlah tersebut 30% mempunyai indikasi operasiBSEF

B.Tujuan Penulisan

Tujuan Umum :

Agar mahasiswa/I dapat mengetahui asuhan keperawatan medical bedah tentang tumor hidung Tujuan Khusus :

  1. Mampu memahami konsep dasar dari tumor hidung
  2.  Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan tumor hidung
  3. mampu merumuskan diagnosa Keperawatan  pada  pasien dengan tumor hidung
  4. Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan tumor hidung
  5. mempu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan tumor hidung
  6. Mampu mengevaluasi asuhan Keperawatan

BAB II

Konsep teoritis

 

A.Definisi

Tumor hidung merupakan tumor yang berada di rongga yang dibatasi oleh tulang-tulang wajah yang merupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit diketahui secara dini. Tumor ganas hidung bagian dalam jarang terjadi.

Tumor hidung adalah pertumbuhan ke arah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dari hidung luar dan vestibulum nasi.

Merupakan tersumbatnya perjalanan udara melalui nostril oleh deviasi septumnasi, hipertrofi tulang torbinat / tekananpolip yang dapat mengakibatkan episode nasofaringitis infeksi(Brunner &Sudarth, 2000).

 

B.Etiologi

Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan di Jepang yaitu 2 per 10.000 penduduk pertahun. Di bagian THT FKUI-RSCM, keganasan ini ditemukan pada 10,1% dari seluruh tumorganas THT. Rasio penderita laki-laki banding wanita sebesar 2:1

Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel,debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain-lain. Pekerja di bidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih besar

Banyak laporan mengenai kasus adeno-karsinoma sinusetmoid pada pekerja-pekerja industri penggergajian kayu dan pembuatan mebel. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasin atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan,sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan

Di Amerika Serikat, insidensi tumor hidung tiap tahun kurang dari 1:100.000 penduduk, yang menyumbang sekitar 3% kanker dari saluran pernapasan atas. Di Jepang dan Uganda, frekuensitumor ini dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat

Kecuali untuk tumor non-epitel, tumor hidung ganas hampir tidak ditemukan pada anak-anak. Prevalensi tumor hidung ganas meningkat sesuai umur yaitu 7:100.000 pada pasien dalam delapan dekade

Rousch (1999) memperkirakan bahwa di atas 80% dari semua tumor ganas pada manusia dihubungkan dengan lingkungan. Bagaimanapun perkiraan ini kemungkinan tinggi, bukti adanya penyebab lingkungan dari tumor hidung terutama pada pasien-pasien yang terpapar nikel,chromium, hydrocarbon danisopropyl oils

Risiko kanker meningkat pada tukang kayu, tukang sepatu dan boot, dan pembuat furniture. Karena kompleksnya paparan faktor lingkungan pada kelompok ini, agen yang berperan sulit diidentifikasi. Paparan hidrokarbon juga meningkatkan kanker hidung

Sekitar 55% tumor hidung dan sinus berasal dari sinusmaxillary, 35% dari kavum nasi, 9% sinus ethmoid, dan 1% sinusfrontal dan sphenoid dan septum. Untuk tumor yang besar, asal tumor sulit untuk diidentifikasi.

C.Tanda dan Gejala

Gejala dini tidak khas,pada stadiun lanjut tergantung asal tumor dan arah perluasanya.

            Gejala hidung :

  • Buntu hidung unilateral dan progresif
  • Buntu bilateral bila terjadi pendesakan kesisi lainya
  • Skret hidung bervariasi,pululen dan berbau bila ada infeksi
  • Sekret yang tercampur darah atau adanya epitaksis menunjukan keganasan
  • Rasa nyeri disekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus,sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat inflansi tumor ganas.
  • Pembengkakan di sekitar pipi
  • Pembengkakan platum
  • Geraham atas goyang, maloklusi gigi
  • Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita

 

Gejalanya dapat dikatogorikan:

  • Gejala nasal.

Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rinorea.Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan nekrotik.

  • Gejala orbital.

Perluasan tumor kearah orbita menimbulkan gejala diplopia, protosis atau penonjolan bola mata,oftalmoplegia, gangguan visus dan epifora.

  • Gejala oral.

Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum atau diprosesus alveolaris. Pasien megeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geligi goyah. Seringkali pasien datang kedokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut.

  • Gejala fasial.

Perluasan tumor ke depan akan menyebabkan penonjolan pipi. Disertai nyeri, anesthesia atau parestesia muka jika mengenai nervus trigeminus.

  • Gejala intrakranial.

Perluasan tumor ke intrakranial menyebabkan sakit kepala hebat, oftalmoplegia dan gangguan visus. Dapat disertai likuorea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossa kranii media maka saraf otak lainnya bisa terkena. Jika tumor meluas ke belakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesia dan parestesia daerah yang dipersarafi nervus maksilaris dan mandibularis.

D.Patofisiologi

Menurut Mansfield E (2006), asal mula tumor jinak pembuluh darah di nasofaring (JNA) terletak di sepanjang dinding posterior-lateral di atap nasofaring, biasanya di daerah margin superior foramen sfenopalatina dan aspek posterior dari middle turbinate. Histologi janin mengkonfirmasikan luasnya area jaringan endotel di daerah ini.

Bukannya menyerbu jaringan disekitarnya, namun tumor ini berpindah dan berubah menyandarkan diri pada tekanan sel-sel yang telah mati (necrosis) untuk merusak dan menekan melalui perbatasan yang banyak tulangnya.

Pada 10-20% kasus, terjadi perluasan intrakranial.

Menurut Tewfik TL (2007), tumor mulai tumbuh di dekat foramen sfenopalatina. Tumor-tumor yang besar seringkali memiliki dua lobus (bilobed) atau dumbbell-shaped, dengan satu bagian tumor mengisi nasofaring dan bagian yang lainnya meluas ke fossa pterigopalatina.

Pertumbuhan anterior terjadi pada membran mukosa nasofaring, memindahkannya ke anterior dan inferior menuju ke ruang postnasal. Pada akhirnya, rongga hidung terisi pada satu sisinya, dan septumnya berdeviasi (”bengkok”) ke sisi lainnya.

Pertumbuhan superior langsung menuju sinus sfenoid, yang dapat juga terjadi erosi (eroded). Cekungan sinus (cavernous sinus) dapat “diserbu” atau diinvasi juga jika tumor berkembang lebih lanjut.

Penyebaran lateral langsung menuju fossa pterigopalatina, mendesak dinding posterior sinus maksila. Lalu, fossa infratemporal dimasuki atau diinvasi.

Adakalanya, bagian sfenoid yang lebih besar (the greater wing of the sphenoid) dapat ter-erosi, membuka middle fossa dura. Terjadi proptosis dan atrofi nervus optikus jika fissura orbita didesak oleh tumor.

Kejadian angiofibroma ekstranasofaring sangatlah jarang dan cenderung terjadi pada pasien yang lebih tua, terutama pada wanita, namun tumor jenis ini lebih sedikit melibatkan pembuluh darah (less vascular) dan kurang agresif (less aggressive) jika dibandingkan dengan JNA.

 

            E.Klasifikasi

  1. Tumor Jinak

Tumor jinak tersering adalah papiloma skuamosa. Secara makroskopis mirip dengan polip, tetapi lebih vaskuler, padat dan tidak mengkilap.

Ada 2 jenis papiloma,

  • pertama eksofitik ataufungiform dan
  • kedua endofitik disebut papiloma inverted.

Papiloma inverted ini bersifat sangat invasive, dapat merusak jaringan sekitarnya. Tumor ini sangat cenderung untuk residif dan dapat berubah menjadi ganas. Lebih sering dijumpai pada anak laki-laki usia tua. Terapi adalah bedah radikal misalnya rinotomi lateral atau maksilektomi media Tumor jinak angiofibroma nasofaring sering bermanifestasi sebagai massa yang mengisi rongga hidung bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus paranasal dan mendorong bola mata ke anterior

  1. Tumor Ganas

Tumor ganas yang tersering adalah karsinoma selskuamosa (70%), disusul oleh karsinoma yang berdeferensiasi dan tumor kelenjar Sinus maksila adalah yang tersering terkena (65-80%),disusul sinus etmoid (15-25%), hidung sendiri (24%), sedangkan sinus sphenoid dan frontal jarang terkena Metastasis ke kelenjar leher jarang terjadi (kurang dari5%) karena rongga sinus sangat miskin dengan system limfa kecuali bila tumor sudah menginfiltrasi jaringan lunak hidung dan pipi yang kaya akan system limfatik   Metastasis jauh juga jarang ditemukan (kurang dari 10%)dan organ yang sering terkena metastasis jauh adalah hati dan paru

  1. Invasi Sekundera.

a)      Pituitary adenomas

b)      Chordomas

c)      Invasi sekunder lain (karsinoma nasofaring, meningioma,tumor odontogenik, neoplasma skeleton kraniofasial jinak dan ganas, tumor orbita dan apparatus lakrimal).

 

F.Stadium

Untuk menentukan derajat atau stadium tumor, umumnya digunakan klasifikasi Session dan Fisch.

 

  • Klasifikasi Menurut Sessions
  • Stadium IA – Tumor terbatas di nares posterior dan atau ruang nasofaring.
  • Stadium IB – Tumor meliputi nares posterior dan atau ruang nasofaring dengan keterlibatan sedikitnya satu sinus paranasal.
  • Stadium IIA – Tumor sedikit meluas ke lateral menuju pterygomaxillary fossa.
  • Stadium IIB – Tumor memenuhi pterygomaxillary fossa dengan atau tanpa erosi superior dari tulang-tulang orbita.
  • Stadium IIIA – Tumor mengerosi dasar tengkorak (yakni: middle cranial fossa/pterygoid base); perluasan intrakranial minimal.
  • Stadium IIIB – Tumor telah meluas ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke sinus kavernosus.

 

  • Klasifikasi Menurut Fisch
  • Stadium I – Tumor terbatas di rongga hidung dan nasofaring tanpa kerusakan tulang.
  • Stadium II – Tumor menginvasi fossa pterigomaksilaris, sinus paranasal dengan kerusakan tulang.
  • Stadium III – Tumor menginvasi fossa infratemporal, orbita dan atau regio parasellar; sisanya di lateral sinus kavernosus.
  • Stadium IV – Tumors menginvasi sinus kavernosus, regio kiasma optik, dan atau fossa pituitari.

F.Komplikasi

Komplikasi tidak dapat dipisahkan dengan perluasan intrakranial (penyakit stadium IV), perdarahan yang tak terkontrol dan kematian, iatrogenic injury terhadap struktur vital, dan transfusi perioperative.

Komplikasi lainnya meliputi: perdarahan yang banyak (excessive bleeding). Transformasi keganasan (malignant transformation). Kebutaan sementara (transient blindness) sebagai hasil embolisasi, namun ini jarang terjadi. Osteoradionecrosis dan atau kebutaan karena kerusakan saraf mata dapat terjadi dengan radioterapi. Mati rasa di pipi (anesthesia of the cheek) sering terjadi dengan insisi Weber-Ferguson.

 

G.Prognosis

Berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan berulangnya JNA adalah: keberadaan tumor di fossa pterigoideus dan basisphenoid, erosi clivus, perluasan intrakranial, suplai makanan dari arteri karotid interna, usia muda, dan ada tidaknya sisa tumor.

Embolisasi preoperative menurunkan angka morbiditas dan kekambuhan (recurrence). Rata-rata kesembuhan untuk pembedahan primer mendekati 100% dengan reseksi lengkap dari JNA ekstrakranial dan 70% dengan tumor intrakranial. Rerata kesembuhan 90% berhubungan dengan pembedahan kedua jika terjadi kekambuhan.

           

H.Diagnosis

Jarangnya tumor ini, yang merupakan < 1% dari keseluruhan malignansi (3% tumor kepala-leher), berarti bahwa banyak dokter umum yang tidak akan melihat pasien dengan penyakit ini sepanjang karir profesional ini. Ketidak sadaran mereka akan kondisi dan kemiripan gejala dengan kondisi peradangan yang lebih umum lainnya pada saluran pernafasan atas mengakibatkan kegagalan dalam menentukan diagnosis yang tepat sebelum tumor meluas melebihi batas tulang sinus. Rata-rata penundaan antara gejala yang pertama kali terlihat dan diagnosisnya adalah 6 bulan.

Harapan terbaik untuk diagnosis awal terletak pada penggunaan besar-besaran pencitraan CT untuk penilaian rinosinusitis kronis dimana gambaran radiologis akan menunjukkan diagnosis yang benar. Penggunaan pencitraan CT dan MRI memungkinkan penggambaran yang tepat dari perluasan tumor, dan perencanaan terinci radioterapi dan reseksi bedah selanjutnya.

 

I.Pencegahan

1    .Ciptakan lingkungan hidup dan lingkungan kerja yang sehat, serta usahakan agar pergantian udara (sirkulasi udara) lancar.

  1. Hindari polusi udara, seperti kontak dengan gas hasil zat-zat kimia, asap industry, asap kayu, asap rokok, asap minyak tanah dan polusi lain yang dapat mengaktifkan virus Epstein bar.
  2. Hindari mengonsumsi makanan yang diawetkan, makanan yang panas, atau makanan yang merangsang selaput lender.

 

J.Pengobatan

Pengobatan kanker nasofaring bisa dilakukan dengan radioterapi, atau kombinasi dengan kemoterapi. Selain itu juga ada kombinasi tambahan lainnya untuk pengobatan kanker ini. Tindakan operasi tidak dilakukan untuk jenis kanker ini karena posisinya yang sulit dan dekat metastase kelenjar getah bening. Tindakan operasi (bedah) yang umum hanyalah biopsi, untuk stadium awal kanker ini jarang dilakukan biopsi.

 

K.Penatalaksanaan

Pada prinsipnya dipakai dua pendekatan sebagai penatalaksanaan JNA, yakni terapi medis dan terapi pembedahan.

A.Terapi Medis

Terapi hormonal dan kemoterapi

Flutamide hormonal, suatu nonsteroidal androgen blocker atau testosterone receptor blocker, efektif untuk mengurangi ukuran tumor pada stadium I dan II hingga 44%.

Terapi hormonal dengan diethylstilbestrol (5 mg PO tid untuk 6 minggu) sebelum eksisi dapat mengurangi vascularity JNA namun terkait dengan efek samping memiliki sifat kewanitaan (feminizing side effects).

Doxorubicin dan dacarbazine disiapkan jika JNA berulang atau kambuh.

Schuon, et.al. (2006) melaporkan analisis immunohistochemical dari mekanisme pertumbuhan JNA. Mereka berkesimpulan bahwa pertumbuhan dan vaskularisasi JNA dikendalikan oleh faktor-faktor yang dibebaskan dari stromal fibroblasts. Oleh karena itu, dihambatnya faktor-faktor ini dapat bermanfaat untuk terapi JNA yang tidak dapat dioperasi (inoperable).

Radioterapi

Beberapa center telah melaporkan rata-rata kesembuhan 80% dengan terapi radiasi.

Radioterapi stereotactic (yakni: pisau Gamma) mengirimkan dosis radiasi yang lebih rendah ke jaringan di sekitarnya. Para ahli telah menyediakan radioterapi untuk penyakit intrakranial atau kasus yang berulang.

Radioterapi three-dimensional conformal untuk JNA yang luas (extensive) atau penyebaran hingga intrakranial memberikan suatu alternatif yang baik untuk radioterapi konvensional berkaitan dengan pengendalian penyakit dan morbiditas akibat radiasi (radiation morbidity).

External beam irradiation, paling sering digunakan untuk penyakit intrakranial yang tidak dapat dibedah (unresectable), atau kambuhan (recurrent). Digunakan dosis yang bervariasi dari 30-46 Gy. Sisa tumor seringkali muncul dua tahun setelah terapi. Perhatian utama termasuk kulit sekunder, tulang, jaringan lunak, keganasan tiroid, dan hambatan perkembangan tulang wajah.

 

B.Terapi Pembedahan

Beberapa pendekatan yang digunakan tergantung dari lokasi dan perluasan JNA.

* Rute rinotomi lateral, transpalatal, transmaksila, atau sphenoethmoidal digunakan untuk tumor-tumor yang kecil (Klasifikasi Fisch stadium I atau II).

* Pendekatan fossa infratemporal digunakan ketika tumor telah meluas ke lateral.

* Pendekatan midfacial degloving, dengan atau tanpa osteotomi LeFort, memperbaiki akses posterior terhadap tumor.

 

* Pendekatan translokasi wajah dikombinasikan dengan insisi Weber-Ferguson dan perluasan koronal untuk kraniotomi frontotemporal dengan midface osteotomies untuk jalan masuk.

* Pendekatan extended anterior subcranial memudahkan pemotongan tumor sekaligus (en bloc), dekompresi saraf mata, dan pembukaan sinus kavernosus.

* Intranasal endoscopic surgery dipersiapkan untuk tumor yang terbatas pada rongga hidung dan sinus paranasal.

 

L.WOC

 

Gangguan pemenuhan Nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh

 

 

Anoreksia

 

stomatitis

gangguan rasa nyaman

                            iritasi mukosa mulut   Mual Muntah

           

kelenjer melekat pada otot

                 dan sulit digerakan             indikasi kemoterapi

Gangguan hargadiri rendah

            Benjolan atau masa tdk Efektif

            pda leher bagian samping

                                                                                                koping indi

 

            Pertumbuhan dan perkembangansel

kanker di kel. Getah bening

 

 

 

            Metastase sel kanker kekel.

getah bening melaluialiran limfe

 

 

Pertumbuhan sel kanker pd nasofaring

 

Pembelahan sel abnormal tidak terkontrol

 

 

mengaktifkan EBV

 

 

mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi zat-zat kasinogenik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

A.Pengkajian

  1. 1.      Identitas
  2. 2.      Riwayat Kesehatan
  3. Keluhan Utama:Pada pasien tumor hidung; Nyeri pada hidung
  4. Riwayat Kesehatan Sekarang:Pasien mulai merasakan nyeri akibat pembengkakan
  5. Riwayat Kesehatan Dahulu: Apakah tumor hidung ini diderita sejak bayi sehingga mempengaruhi dalam kemampuan bernafas
  6. Riwayat Kesehatan Keluarga: Dalam keluarga pasien Tidak ada keluarga yang menderita penyakit pada sistem penciuman

B.Pada pemeriksaan fisik didapatkan:

ü  Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum: didapatkan pembengkakan sesuai lokasi pertumbuhan tumor

ü  Palpasi, teraba tumor dan pembesaran kelenjar leher

 

  1. Pengkajian Diagnostik:
  • Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
  • Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
  • Foto sinar X:

s  WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus frontal)

s  Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)

s  RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)

s  CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)

  • Biopsi:

Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.

 

B.Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

  1. Kecemasan b/d kikrisis situasi (keganasan), ancaman perubahan status kesehatan-sosial-ekonomik, perubahan fungsi-peran, perubahan interaksi sosial, ancaman kematian, perpisahan dari keluarga.
  2. Nyeri b/d kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses inflamasi

C.INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

  1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

Rasioanl: Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

  1. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik.

Rasional:Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien.

  1. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini.

Rasional: Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya.

  1. Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan.

Rasional: Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan.

  1. Kolaborasi pemberian obat sedatif.

Rasional: Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat

  1. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan.

Rasional: Menilai perkembangan masalah klien

  1. Gangguan harga diri b/d kelainan bentuk bagian tubuh akibat keganasan, efek-efek radioterapi/kemoterapi.

 

 

Nyeri b/d kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses inflamasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

  1. Lakukan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, masase punggung) dan pertahankan aktivitas hiburan (koran, radio)

Rasional: Meningkatkan relaksasi dan mengalihkan fokus perhatian klien dari nyeri.

  1. Ajarkan kepada klien manajemen penatalaksanaan nyeri (teknik relaksasi, napas dalam, visualisasi, bimbingan imajinasi)

Rasional: Meningkatkan partisipasi klien secara aktif dalam pemecahan masalah dan meningkatkan rasa kontrol diri/keman-dirian

  1. Berikan analgetik sesuai program terapi.

Rasional: Analgetik mengurangi respon nyeri.

  1. Evaluasi keluhan nyeri (skala, lokasi, frekuensi, durasi)

Rasional: Menilai perkembangan masalah klien

 

C.Evaluasi

Diagnosa Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala.

Tujuan Pasien akan dapat merasakan pola tidurnya normal kembali

            Tindakan Guided imagery

Evaluasi

S:pasien mengatakan” Ners,saya sudah merasa nyaman padawaktu tidur dan pola tidurkusudah normal kembali.

O: pasien tampak tenang dantidak gelisah

A: pola tidur pasien sudahkembali normal

P: rencana tindakan dilanjutkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

A.Kesimpulan

            Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas nomor satu yang mematikan danmenempati urutan ke 10 dari seluruh tumor ganas di tubuh. Banyak faktor yangdiduga berhubungan dengan KNF, yaitu: Aadanya infeksi EBV, Faktor lingkungan,dan Genetik. Karsinoma nasofaring banyak ditemukan di Indonesia. Pada stadiumdini yang diberikan adalah penyinaran dan hasilnya baik

 

B.Saran

Bila dijumpai gejala seperti yang disebutkan di atas, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan lengkap sampai karsinoma nasofaring dapat disingkirkan

Diharapkan dengan meningkatkan penemuan kasus dini penangulanganterhadap penyakit ini dapat diperbaiki. Sehingga angka kematian dapatditekan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Doenges, Marlyn E. 2000.Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian perawatan Pasien. Jakarta EGC

 

  • (Brunner &Sudarth, 2000).

 

  • Depkes RI. 2003.Pola Penyakit 50 Peringkat UtamaMenurut DTD Pasien Rawat.Jakarta: Jalan Di Rumah SakitIndonesia Tahun 2003, Depkes RI

 

  • Price dan wilson (1995), patofisiologi-konsep klinis proses-proses penyakit, Ed.4,EGC, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s