TYPUS ABDOMINALIS

BAB II

KONSEP TEORITIS

A. Pengertian

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).

  Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).

Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

B.Anatomi Fisiologi

Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses zat cair yang dimulai dan mulut sampai anus.

Susunan saluran pencernaan

Mulut

Faring

Oesofagus

Fungsinya menyalurkan makanan dan pharing kelambung dengan cara    peristaltic

Lambung

Fungsinya

–          Tempat merupakan makanan buat sementara sesudah makan

–          Tempat berlangsungnya proses pencernaan makanan

–          Tempat menghasilkan zat intrinsic keatas dan bersama vitamin B12 akan berfungsi membentuk darah

–          Tempat penyerapan obat-obatan dan alkohol

Usus halus

Terdiri dari :

Duodenum

Rencananya kira-kira 25 cm usus lebih pendek

Akan bermuara saluran dari kelenjer pankreas dan saluran kandung empedu

Jejenum : panjang kira-kira 2,3 meter

Ileum merupakan yang terpanjang 4,65 meter

Struktur usus halus

1)      Lapisan mukosa

Banyak terdapat kelenjer yang bersifat basa sehingga dapat menetralisir asam lambung sampai ke usus halus dan pelicin/ lubrikasi bahan makanan

2)      Lapisan submukosa

Berbentuk oleh jaringan ikat

3)      Lapisan muskularis

Lapisan ini mempunyai gerakan mendorong dan mencampur.

4)        Lapisan serosa

Terdapat penggantung usus disebut mesentrium

Fungsi usus

1)      Tempat penutupan sementara makanan

2)      Tempat berlangsungnya pencernaan makanan

3)      Tempat terjadinya penyerapan

C. Etiologi

Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman salmonella typhosa yang merupakan basil negatif, bergerak dan rambut getar, tidak berspora. Kuman ini mempunyai 3 macam antigen yaitu :

Antigen O (Somatik) tidak menyebar

Antigen H (menyebar) terdapat pada flagella

Antigen V1

Ketiga jenis antigen tersebut dalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga macam antibody disebut antigen. Kuman ini dapat masuk melalui makanan / minuman yang terkontaminasi (Rampengan, 2007: 47) typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

D. Patofisiologi

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.

Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

E.WOC

Kuman Salmonella masuk melalui makanan/

Minuman yang terkontaminasi

¯

Melalui saluran pencernaan

¯

Diserap usus halus

¯

Invasi kuman kejaringan limfoid usus halus (plak peyer)

Dan jaringan limfoid mesentrika

¯

Nekrosis dan peradangan setempat kuman lewat

¯

Kuman masuk aliran darah (bakteremia primer) melalui pembuluh limfe

¯

Masuk kedalam retikulo endoteliat system / RES (hati,limfe)

 

 

 

Kuman difagosit oleh sel-sel fagosit RES

Kuman yang tidak difagosit tidak berkembang biak     inkubasi 5-9 hari

¯

 

`

Masuk ke pembuluh darah (bakteriemia sekunder)

¯

 

Limfa dan kandung empedu

¯

Endotoksin

¯

 

Kuman dikeluarkan kembali dari kandung empedu

 

¯

Merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang

¯

 

Rongga usus

¯

 

Zat pirogen beredar dalam darah

¯

 

Reinfeksi usus

 

¯

Zat pusat termoregulator dihipotalamus dipengaruhi

 

¯

MK : Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Demam

¯

 

 

 

MK : peningkatan suhu tubuh

intoleransi aktivitas

 

 

 

F. Manifestasi Klinik

Masa tunas typhoid 10 – 14 hari

  1. a.      Minggu I

pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.

b. Minggu II

pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.

G. Komplikasi

a. Komplikasi intestinal

1) Perdarahan usus

2) Perporasi usus

3) Ilius paralitik

b. Komplikasi extra intestinal

1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis.

2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.

3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.

4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.

5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.

6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.

7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

H. Penatalaksanaan

a. Perawatan.

1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.

2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.

b. Diet.

1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.

2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.

c. Obat-obatan.

1) Klorampenikol

2) Tiampenikol

3) Kotrimoxazol

4) Amoxilin dan ampicillin

I. Pencegahan

Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas

J. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :

  1. a.      Pemeriksaan leukosit

Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.

b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

c. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :

 

 

1) Teknik pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.

2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.

Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.

3) Vaksinasi di masa lampau

Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.

4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.

d. Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :

1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).

2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).

3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.

Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :

a. Faktor yang berhubungan dengan klien :

1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.

2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.

3. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.

4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.

5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.

6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.

7. I7nfeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.

8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.

b. Faktor-faktor Teknis

1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.

2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.

3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III                                       

ASKEP TEORITIS

A.Pengkajian

1)      Identitas Klien

2)      Riwayat kesehatan

  1. Riwayat kehamilan dan kelahiran

Biasanya ibu saat hamil tidak pernah menderita infeksi dan saat kelahiran klien lahir normal, imunisasi lengkap / tidak lengkap.

  1. Riwayat kesehatan dahulu

Biasanya klien suka memakan makanan dan minuman yang tidak terjaga kebersihan.

  1. Riwayat kesehatan Sekarang

Biasanya klien mengeluh badannya demam, terutama pada sore sampai malam, perasaan tidak enak, lesu, nyeri kepala, pusing, tidak bersemangat, bibir kering dan pecah -pecah, lidah kotor, perut kembung, BAB keras / diare.

  1. Riwayat Kesehatan keluarga

Kemungkinan ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti diderita klien

  1. Riwayat kesehatan lingkungan

Biasanya lingkungan tempat tinggal klien tidak terjaga, yang dapat menimbulkan kuman ada dimakanan / minuman

  1. Riwayat tumbuh kembang

Biasanya klien dengan penyakit ini jarang ditemukan gangguan riwayat tumbuh kembang pada motorik kasar, motorik halus, kognitif dan bahasa, sosial dan kemandirian akibat penyakitnya.

3)      Pola kebiasaan sehari-hari

  1. Pola pemenuhan nutrisi

Biasanya saat tidur klien mengatakan nafsu makan ada, tidak ada keluhan saat sakit klien mengatakan tidak nafsu makan

  1. Pola tidur

Biasanya saat sehat klien mengeluh ada tidur siang dan malam cukup. Saat sakit biasanya klien mengeluh kurang tidur baik siang maupun malam karena nyeri kepala.

  1. Pola aktivitas

Biasanya saat sehari klien mengatakan mampu beraktifitas, bermain dengan teman sebaya, saat sakit biasanya aktivitas klien dibantu dan klien hanya dibolehkan istirahat ditempat tidur.

4    Pola kebersihan diri

Biasanya saat sehat klien mampu melakukan kebersihan diri seperti, mandi, oral hygiene, cuci rambut, berpakaian tanpa bantuan. Saat sakit biasanya keluarga mengatakan kebersihan diri klien dibantu.

  1. Pola eliminasi

Biasanya saat sehat klien mengatakan BAB / BAK tidak ada keluhan, yang kuning tidak keras / mencret. Saat sakit klien mengeluh BABnya keras / diare, BAKnya bewarna seperti teh.

 

4)      Pemeriksaan fisik                

1.Data Klinik

Biasanya TTV meningkat, kadang-kadang ada menurun

1.      Nutrisi dan metabolime

Ds        : biasanya klien mengeluh tidak nafsu makan, mual / muntah, porsi yang diberikan tidak dihabiskan.

Do       : Biasanya membran mukosa mulut kering, lidah kotor, bibir pecah-pecah, BB menurun, turgor kulit jelek.

2.      Respirasi / sirkulasi

Ds        : Biasanya klien mengeluh nafas tidak sesak, batuk tidak ada dan nyeri dada / oedem tidak ada

 

Do       : Biasanya suara nafas normal, batuk, cynosis dan oedem tidak ada.

3.      Eliminasi

Ds        : biasanya  BAB keras / diare BAK, bewarna kuning seperti teh.

Do       : Biasanya perut tegang, BAB keras / diare, BAK bewarna kuning seperti teh

4.      Kognitif / Persepsi

Ds        :  Biasanya orientasi dan reaksi terhadap rangsangan baik, conjungtiva anemis

5.      Konsep diri

Biasanya kontak mata ada dan perilaku klien tenang

6.      Peran / hubungan keluarga

Biasanya interaksi dengan keluarga dan tingkah laku klien tenang serta baik

7.      Tidur / istirahat

Biasanya klien mengatakan tidur kadang-kadang terjadi gangguan.

2.Pemeriksaan penunjang

ü  Hb : menurun (sering ditemukan anemia)

ü  Leukosit : kadang-kadang leukopeni, leukositosis

ü  Trombosit, menurun

ü  Gambaran sumsum tulang menunjukkan nermoseluler, eritoid dan mioloid sistem normal, jumlah megakariosit dalam batas normal.

ü  Pemeriksaan bakterolosis

Bertemu kuman salmonella typhosa pada salah satu biakan, feses, urine.

.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah :

1. ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.

2. Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.

3. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.

4. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.

5. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat.

C. Perencanaan

Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut :

Diagnosa. 1

 gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipertermia dan muntah.

Tujuan

Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi

Kriteria hasil

Membran mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas normal, tanda-tanda dehidrasi tidak ada

Intervensi

1.Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan peningkatan suhu tubuh,

2. pantau intake dan output cairan dalam 24 jam,

3.ukur BB tiap hari pada waktu dan jam yang sama, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan distorsi lambung.

4.Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari,

5.kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K, Na, Cl) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi.

 

Diagnosa. 2

Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

Tujuan :Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi

Kriteria hasil :Nafsu makan bertambah, menunjukkan berat badan stabil/ideal, nilai bising usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal, konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat.

Intervensi :

1.Kaji pola nutrisi klien, kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien,

2. anjurkan tirah baring/pembatasan aktivitas selama fase akut, timbang berat badan tiap hari.

3.Anjurkan klien makan sedikit tapi sering, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi lambung,

4.kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet,

5.kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Ht dan Albumin dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik seperti (ranitidine).

 
Diagnosa 3

Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi

Tujuan:Hipertermi teratasi

Kriteria hasil:Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.

Intervensi

1.Observasi suhu tubuh klien,

2.anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien,

3.beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas,

4.anjurkan untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.

Diagnosa 4

Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan:Kebutuhan sehari-hari terpenuhi

Kriteria hasil :Mampu melakukan aktivitas, bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot.

Intervensi

1.Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung,

2.bantu kebutuhan sehari-hari klien seperti mandi, BAB dan BAK,

3.bantu klien mobilisasi secara bertahap,

4.dekatkan barang-barang yang selalu di butuhkan ke meja klien,

5.dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin sesuai indikasi.

Diagnosa 4

Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive

Tujuan:Infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil;Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi purulen/drainase serta febris.

Intervensi

1.Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR).

2.Observasi kelancaran tetesan infus, monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus,

3.dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi.

4.Evaluasi

Berdasarkan implemantasi yang dilakukan,maka evaluai yang diharapkan untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typoid ini,diharapkan tanda-tanda vital stabil,kebutuhan cairan terpenuhi,kebutuhan nutri terpenuhi,dan semua masalah yang ada dapat diselesaikan.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUPAN

 

A.Kesimpulan

            Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi

Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier.

B.Saran

            Penulis berharap mudah-mudahan makalahini dapat bermanfaat bagi yang membacanya dan dapat di aplikasikan dalam asuhan keperawatan,seta dapat menjadi referensi pembuatan makalah selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit Media Aesculapius. FKUI Jakarta. 2000.
  2. Arjatmo Tjokronegoro & Hendra Utama. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke Tiga. FKUI. Jakarta. 1997.
  3. Behrman Richard. Ilmu Kesehatan Anak. Alih bahasa: Moelia Radja Siregar & Manulang. Editor: Peter Anugrah. EGC. Jakarta. 1992.
  4. Joss, Vanda dan Rose, Stephan. Penyajian Kasus pada Pediatri. Alih bahasa Agnes Kartini. Hipokrates. Jakarta. 1997.

Ranuh, Hariyono dan Soeyitno, dkk. Buku Imunisasi Di Indonesia, edisi pertama. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s