ASKEP APENDIKSITIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Latar belakang pembuatan asuhan keperawatan appendiksitis ini  adalah untuk memenuhi tugas kelompok yang diberikan kepada kami tentang bagaimana asuhan keperawatan appendkisitis.

 

  1. B.     Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran mata kuliah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang asuhan keperawatan appendisitis

  1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan appendiksitis.

  1. Tujuan Khusus

Mahasiswa dapat menjelaskan :

  • Definisi
  • Etiologi
  • Manifestasi klinik
  • Patofisiologi
  • Komplikasi
  • Cara perawatan klien
  • Asuhan keperawatan klien dengan appendiksitis

 

 

 


 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

1.  Definisi

            Apendiksitis adalah penonjolan kecil yang berbentuk seperti jari, yang terdapat di usus besar atau (caecum), tepatnya di daerah perbatasan dengan usus ileum kuadran kanan bawah .

            Appendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan (Arif Mansjoer, 2002 : 307).

            Appendiktomi adalah suatu tindakan operasi dengan tujuan untuk mengangkat appendik yang telah meradang.

 

2. Etiologi

            Penyebab yang paling umum dari apendiksitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa yang menyebabkan inflamasi.

            Selain itu appendiksitis juga disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hiperplasia foliksi limfoid, fekalit, benda asing, stiktor karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya dan neoplasma (Arief Mansjoer, 2000 : 307) 

 

3. Anatomi Fisiologi

            Saluran makanan yang disebut juga tractus digestifus dapat diurutkan sebagai berikut :

a)      Rongga mulut

b)      Rongga pharynx

c)      Oesophagus

d)     Lambung

e)      Usus kecil

f)       Usus besar

g)      Rectum dan anus

Pada usus besar terdapat bagian yang bernama colon asendens yaitu terletak dibawah muara dari ileum ke bawah dinamakan caecum. Pada caecum ini akan bermuara usus buntu (appendik). Appendik ini besarnya kira-kira sebesar pensil dengan panjangnya ± 7,5 cm.

Fungsi appendik ini belum diketahui, namun appendik ini merupakan sisa pembentukan usus pada waktu embrio. Peradangan appendix ini disebut appendiksitis. (Syaifuddin, 1997 : 75)

 

4. Patofisiologi

            Appendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia, folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.

            Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabakan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa atau sumbatan. Obstruksi yang terjadi tersebut yang menyebabakan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen.

Tekanan meningkat akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat ini terjadi appendiksitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. sumbatan disebabkan oleh nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium, dan suhu tubuh mulai naik.

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Keadaan ini yang kemudian disebut dengan appendiksitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan appendiksitis ganggrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah akan terjadi appendiksitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat aciecum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah appendiks sehingga timbul suatu masa lokal yang dsebut infiltrat appenduraris. Peradangan appendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.

            Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua atau dewasa perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

 

5. Manifestasi Klinis

  • Nyeri didaerah umbilicus atau periumbilikus
  • Muntah dalam 2-12 jam
  • Nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk
  • Anorexia
  • Malaise
  • Demam tinggi
  • Konstipasi
  • Kadang-kadang disertai diare, mual

 

6. Komplikasi

  • Tromboflebitis
  • Abses subfrenkius
  • Fokal sepsis intraaabdominal
  • Obstruksi intestinal
  • Peritonitis

 

 

7. Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan darah          jumlah leukosit (biasanya akan terjadi leukositosis ringan  10.000 – 20.000/ml) dengan peningkatan neutrofil.
  • Pemeriksaan urine           untuk membedakan adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih.
  • Pemeriksaan USG dilakukan bila telah terjadi infiltrate apendikularis.
  • Foto abdomen : dapat menyatakan adanya penyumbatan material pada appendik
  • Appendikografi

 

8. Diagnosa Banding

Gastroenteritis akut adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan appendiksitis. Pada kelainan ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan lekosit akan meningkat jelas dan tidak sesuai dengan nyeri perut yang timbul. Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah-pindah. Hiperperistaltik merupakan gejala yang khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung akut suatu observasi berkala akan dapat menegakkan diagnosa.

Adenitis mesenterikum juga dapat menunjukkan gejala dan tanda yang identik dengan appendiksitis. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak-anak, biasanya didahului infeksi saluran napas. Lokasi nyeri perut di kanan bawah tidak konstan dan menetap.

Diverkulitis Meckeli juga menunjukkan gejala yang hampir sama, Lokasi nyeri mungkin lebih ke medial, tetapi ini bukan kriteria diagnosa yang dapat dipercaya, karena kedua kelainan ini membutuhkan tindakan operasi.       

 

9. Laboratorium

    Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada appendicitis sederhana lebih dari 13000/mm3 umumya pada appendicitis perforasi. Hitung jenis : terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan Urin : sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila appendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika.

10. Pelaksanaan

  1. Sebelum operasi (Pre-Op)
  • Observasi

 – 8 – 12 jam setelah timbulnya keluhan, dalam tindakan ini diobservasi ketat     perlu dilakukan, pasien diminta tirah baring dan dipuasakan

–  Pemeriksaan abdomen dan rektal

– Pemeriksaan darah (leukosit) diulang secara periodik

– Foto abdomen

  • Antibiotik
  1. Operasi Appendik
  2. Pasca Operasi
  • Observasi TTV
  • Baringkan klien dalam posisi semi fowler
  • Puasakan klien selama 12 jam
  • Berikan minum mulai  15ml/jam selama 4-5 jam
  • Lalu naikkan menjadi 30 ml/jam
  • Berikan makanan saring/cair pada keesokan harinya dan makanan berikutnya makanan lunak.
  • Pada hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan klien diperbolehkan pulang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

ASKEP TEORITIS

 

1. Pengkajian

a. Identitas Klien

b. Keluhan Utama

c. Riwayat Kesehatan

  • Riwayat kesehatan dahulu

Kaji apakah klien pernah menderita dengan nyeri pada abdomen seperti batu uretra

  • Riwayat kesehatan sekarang

Kaji adanya nyeri di daerah umbilikus dan peri umbilicus, muntah, anorexia, malaise, demam tinggi, konstipasi, bahkan kadang-kadang terjadi diare.

  • Riwayat kesehatan keluarga

–          Biasanya appendiksitis tidak merupakan penyakit keturunan ataupun menular.

–          Kaji apakah ada anggota kelurga lain yang menderita penyakit hipertensi atau DM.

d. Pemeriksaan Fisik            

  • Keadaan umum klien benar-benar terlihat sakit.
  • Suhu tubuh naik ringan pada appendiksitis ringan, suhu tubuh meninggi dan menetap atau lebih bila terjadi perforasi
  • Dehidrasi ringan sampai berat tergantung pada derajat sakitnya, dehidrasi berat pada klien appendiksitis perforasi dengan peritonitis umum. Hal ini disebabkan kekurangan masukan, muntah, kenaikan suhu.
  • Abdomen : tanda-tanda rangsangan peritoneal kuadran kanan bawah, pada appendiksitis perforasi lebih jelas, seperti nyeri tekan.

        I   : Perut tampak tegang

P  : Penurunan bising usus

P  : Adanya nyeri tekan sekitar umbilikus, distensi, abdomen dan kaku.

A  : Tympani

  • Dada thoraks

I   : Simetris kiri dan kanan

P  : Fremitus kiri dan kanan

P  : Sonor

A  : Vesikular

 

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan Yang Muncul

  1. Diagnosa Pre Op
  • Gangguan rasa nyaman : nyeri (sedang/berat b/d terjadinya peradangan/ peningkatan asam lambung.
  • Gangguan rasa aman : cemas b/d akan dilakukannya insisi pembedahan.
  • Resti infeksi b/d perforasi/peradangan pada appendiks
  • Resti kekurangan volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan ditandai dengan mual, muntah, dan anoreksia
  • Perubahan  pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat
  • Intoleransi aktivitas b/d melemahnya bagian ekstremitas dan keterbatasan gerak karena nyeri.
  1. Diagnosa Post Op
  •  Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d adanya insisi pembedahan
  •  Resti terjadinya infeksi b/d adanya luka pembedahan.
  •  Resti kekurangan volume cairan b/d peningkatan suhu tubuh.

 

3. Intervensi Keperawatan

    Untuk diagnosa pre-op

    Dx :

  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri (sedang/berat) b/d terjadinya peradangan

Tujuan : Gangguan rasa nyaman : nyeri hilang / berkurang

KH : –    Wajah klien tidak meringis

–          TTV dalam batas normal

–          Klien tidak gelisah

–          Klien tidak mengeluh kesakitan

 

     Intervensi :

  1. Kaji tingkat nyeri, catat lokasi dan karakteristik (skala 1-10)

 Ras : Dapat mengetahui tingkat nyeri dan dapat menentukan intervensi atau tindakan yang akan dilakukan.

  1. Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler

    Ras : Menghilangkan ketegengan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang

  1. Alihkan perhatian klien

    Ras : Dengan mengalihkan perhatian maka klien tidak terfokus dengan nyeri

4. Kolaborasi

    Ras : berikan analgetik sesuai dengan indikasi

Dx :

b.   Resiko tinggi terhadap infeksi b/d perforasi reptur pada appendik

Tujuan : Infeksi tidak terjadi

KH : – TTV dalam batas normal

       : – Klien tidak demam

       : – tidak terjadi leokositosis

       : – Luka Bersih

Intervensi :

  1. Awasi TTV

Ras : Tanda-tanda vital yang meningkat merupakan cirri utama terjadinya infeksi

  1. Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka septic

      Ras : Menurunkan resiko penyebaran infeksi

3.   Lihat insisi dang anti balutan 2 x 24 jam

      Ras : Memberikan defokasi dini terjadinya proses infeksi

4.   Berikan informasi yang tepat dan jelas

Ras : Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas

 

4. Impelementasi

            Setelah intervensi disusun, maka dilanjutkan dengan tindakan yaitu : melaksanakan secara langsung atau mendelegasikan dengan tenaga kesehatan lainnya yang dapat dipercaya dalam memberikan asuhan keperawatan klien yang dilihat secara utuk dan  unik atau bio-psiko dan spiritual.

 

5. Evaluasi     

            Merupakan akhir dari suatu proses keperawatan, dan merupakan penilaian dari proses keerawatan yang telah diberikan pada klien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

 

PENUTUP

 

 

  1. 1.      Kesimpulan

Appendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan (Arif Mansjoer, 2002 : 307).

Selain itu appendiksitis juga disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hiperplasia foliksi limfoid, fekalit, benda asing, stiktor karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya dan neoplasma (Arief Mansjoer, 2000 : 307).

Appendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia, folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.

 

  1. 2.      Saran

Saran dari kelompok kami, sebaiknya kita harus bisa menjaga kesehatan organ tubuh kita, dan oleh sebaab itu kita harus menjalani makanan yang 4 sehat 5 sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  • Doengoes, Marlynn, E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
  • Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s